Tentang Pendiri

Cindy Widjaja

Benih yang Ditanam dalam Anugerah
Cindy Widjaja lahir dalam keluarga Kristen di Surabaya, Indonesia, pada 16 Mei 1982. Ayahnya, Peter Widjaja, meninggalkan dunia ini ketika ia baru berusia satu setengah tahun. Namun bahkan di tengah kehilangan, kasih karunia Tuhan tidak jauh darinya. Ibunya, Lily Tenggala, seorang janda yang setia, lemah namun kuat di dalam Tuhan, membesarkannya dalam jalan Tuhan. Maka sebuah benih ditanam di dalam hati Cindy—benih iman—yang pada waktunya akan bertunas dan berbuah.

Hati yang Menyala bagi Tuhan
Seiring bertambahnya usia, api di dalam dirinya semakin berkobar. Si bungsu dalam keluarga Widjaja dan Tenggala, Cindy menapaki jalan yang sederhana, namun hatinya digerakkan oleh gairah yang menyala bagi Tuhan. Ia mulai melayani sebagai guru TK di sebuah sekolah Kristen dan memberikan hatinya bagi Allah.

Pada tahun 2007, ia menjadi relawan sebagai penerjemah bagi sekelompok terapis Kristen yang melayani orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus. Pada tahun yang sama, ia juga melayani dalam KKR Indonesia bersama Prophet TB Joshua.

Sebuah Penglihatan dan Panggilan
Sebelum KKR dimulai, Tuhan berbisik kepada Cindy melalui sebuah penglihatan. Sendirian di kamar hotelnya di Jakarta, ia melihat sebuah kata—melintas dari kanan ke kiri di hadapannya: “NIGERIA.”

“Itu adalah sesuatu yang tak pernah bisa kubayangkan—pergi ke Nigeria,” akunya. “Tetapi apa yang bisa kulakukan? Tuhan telah berbicara. Aku tidak dihadapkan pada pilihan—aku hanya harus taat.”

Masuk ke dalam Perapian Pemuridan
Setelah KKR tersebut, pada usia dua puluh lima tahun, Cindy menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan di bawah Prophet TB Joshua melalui Emmanuel TV dan The Synagogue, Church of All Nations (SCOAN). Ia tiba di Nigeria pada 10 Oktober 2007, hanya oleh karena ketaatan di hatinya dan kepercayaan kepada Dia yang memanggilnya.

“Aku tidak pernah membayangkan bahwa pergi ke Nigeria akan menjadi fase paling berharga dalam hidupku,” kenangnya. “Prophet TB Joshua lebih dari sekadar mentor—ia adalah sosok ayah yang lama kudoakan sejak masa kecilku. Tuhan mendengar. Tuhan menjawab.

"Ia menerimaku ketika aku tidak dikenal dunia, dan ia percaya pada tujuan yang telah Tuhan tuliskan atas hidupku. Siang dan malam, ia melatihku dalam api kehidupan, dalam iman, dan dalam takut akan Tuhan. Aku sangat bersyukur telah ditemukan oleh salah satu jenderal terbesar Tuhan, oleh kasih karunia-Nya.”
– Cindy Widjaja

Dijaga dalam Kasih dan Teguran
Suatu hari, setelah sebuah teguran yang keras, Prophet TB Joshua berkata kepadanya sebagai seorang ayah yang mengasihi:
“Cindy, saya tidak mau kehilangan kamu. Itulah sebabnya saya akan berusaha lebih keras untuk membantumu berubah.”

Kata-kata itu menembus hatinya seperti anak panah kasih karunia. Pada saat itu, ia teringat akan perkataan Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes:
“...Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa..."”
— Yohanes 17:12

“Daddy, engkau bisa saja membiarkanku pergi dari pemuridan, tetapi engkau menjagaku. Terima kasih, ayahku yang terkasih,” Cindy menangis dalam hatinya, sementara air mata memenuhi matanya—air mata yang tak mampu ia bendung.

Guntur Perpisahan
“Seolah-olah petir dahsyat membelah langit pada hari yang damai. Jantungku berhenti berdetak, terdiam dalam keheningan. Aku percaya akan berjalan bersamamu sampai sangkakala berbunyi dan langit terbuka menyambut kedatangan Kristus. Namun seperti pencuri pada waktu malam, saat itu datang—terlalu cepat, terlalu tiba-tiba. Ya Tuhan! Engkau telah berfirman, siapa yang dapat mempertanyakan waktu-Mu atau menolak ketetapan-Mu?” demikian jeritan hatinya dalam duka yang dalam seperti lautan.

Pada 5 Juni 2021, Prophet TB Joshua dipanggil pulang. Untuk sesaat, duniaku yang dahulu penuh api dan tujuan menjadi sunyi.

Pesan Terakhir
Beberapa minggu sebelum kepergiannya, Prophet TB Joshua telah berkata:
“Langkah selanjutnya adalah kalian semua kembali ke negara masing-masing.” Tidak seorang pun memahami perkataannya saat itu. Pada 10 Oktober 2021, setelah 14 tahun di Nigeria, Cindy kembali ke Indonesia untuk mencari wajah Tuhan.

“Menanti Tuhan terasa seperti padang gurun yang tak berujung,” katanya. “Namun bahkan keheningan pun akan berlalu. Suara-Nya akan datang.”

Pertemuan Ilahi dan Instruksi Baru
Dalam musim penantian itu, ia menerima undangan untuk menghadiri pernikahan ‘kakak rohaninya,’ Prophet Racine Bousso, dan mempelainya, Ruth, yang ia sebut sebagai ‘saudariku.’

Brother Racine-lah yang memperkenalkanku kepada Prophet TB Joshua,” kenangnya.

Ia bergabung dengan mereka, tetap menantikan instruksi Tuhan selanjutnya. Dan instruksi itu datang: ia diminta untuk mendukung pelayanan The University of God (The UOG) di bawah Prophet Racine dan Evangelist Ruth.

Panggilan untuk Melahirkan
Saat mendukung pelayanan The UOG, Allah membuka jalan baru dalam hidupnya. Ia menerima dorongan ilahi ketika Tuhan berbisik di hatinya: "Write what you read!" yang berarti: Tuliskan apa yang engkau baca. Inspirasi itu bertumbuh, dan segera sebuah gagasan baru muncul—memulai sebuah pelayanan. Hal ini tak pernah terlintas sebelumnya dalam hati maupun pikirannya.

“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga... itulah yang dinyatakan Allah kepada kita oleh Roh-Nya.”
— 1 Korintus 2:9–10

Ia sangat merendahkan diri menerima hal ini. Kemudian ia membagikan pewahyuan tersebut kepada Prophet Racine dan tim UOG, dan bersiap untuk kembali pulang sekali lagi, setelah tiga tahun dalam pelayanan.

Kembali ke Permulaan
Pada 22 Juni 2025, Cindy kembali ke tanah kelahirannya—Surabaya, Indonesia. Dua hari kemudian, ia mengasingkan diri dalam retret pribadi untuk mencari wajah Tuhan dan kejelasan suara-Nya mengenai panggilan yang baru.

“Di sana, dalam keheningan, datang kekuatan. Dalam keteduhan, datang keberanian,” katanya.

Route to Life Dilahirkan
Maka lahirlah Route to Life (RTL)—bukan dari ambisi, melainkan dari ketaatan. “Prophet TB Joshua, terima kasih karena telah percaya pada tujuan Tuhan atas hidupku. Ini adalah ‘terima kasih’-ku. Bagi Tuhan segala kemuliaan.” – Cindy Widjaja

Doa yang Menuntun Perjalanan
“Tuhan Yesus, biarlah aku merasakan tanganku dalam tangan-Mu, dan biarlah aku mengenal sukacita berjalan dalam kekuatan-Mu—bukan kekuatanku.”
Inilah doa yang diajarkan oleh mentornya, Prophet TB Joshua, yang terus menuntunnya melangkah maju, saat ia berjalan di jalan yang ditetapkan baginya oleh kasih karunia Tuhan—sebuah jalan bernama Route to Life, semuanya bagi kemuliaan Tuhan.

Tentang Rute Tujuan Luhur (RTL)

Route to Life—atau RTL—adalah langkah iman dan pelayanan yang terinspirasi secara ilahi yang lahir dari hati Cindy Widjaja. Ini adalah caranya untuk memberikan kembali kepada komunitas—dengan mengarahkan orang-orang kembali ke Route to Life yang sejati: kehidupan yang dijanjikan oleh Tuhan.

Tentang Yayasan RTL

Yayasan Rute Tujuan Luhur, juga dikenal sebagai Yayasan Rute Tujuan Luhur, adalah yayasan nirlaba yang terdaftar secara hukum di Republik Indonesia

Visi & Misi

Route To Life (RTL) berkomitmen pada visi dan misi yang telah Allah tanamkan di hati Cindy Widjaja: